670 Kapal Masih Terjebak di Selat Hormuz, Negara Mana Paling Terdampak?

D

Deli Hermanto

04 April 2026 • 220 Dilihat

Bagikan:
670 Kapal Masih Terjebak di Selat Hormuz, Negara Mana Paling Terdampak?

Sebanyak 670 kapal komoditas dilaporkan masih berada di sekitar Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, menyusul eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu telah mengganggu jalur pelayaran strategis dunia dan berdampak luas terhadap industri energi global.

Data terbaru menunjukkan perusahaan dari Uni Emirat Arab menjadi yang paling banyak terdampak, dengan sekitar 120 kapal atau 18 persen dari total kapal yang berada di wilayah tersebut. Namun, angka ini diperkirakan masih lebih rendah dari kondisi sebenarnya, mengingat sebagian kapal diduga mematikan sistem pelacak (transponder) mereka demi keamanan.

Setelah Uni Emirat Arab, perusahaan pelayaran asal Yunani menempati posisi kedua dengan sedikitnya 75 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz sejak konflik dimulai. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 kapal merupakan tanker minyak dan gas.

Negara-negara Asia juga mengalami dampak signifikan. Perusahaan China tercatat memiliki 74 kapal di kawasan tersebut, termasuk 25 kapal tanker minyak dan gas serta sisanya kapal kargo curah. Jepang memiliki sedikitnya 23 kapal tanker minyak dan gas serta 16 kapal kargo, sementara tambahan 25 kapal berbasis Hong Kong juga teridentifikasi berada di wilayah tersebut.

India turut terdampak dengan 24 kapal tanker minyak dan gas yang berada di sekitar selat. Sementara itu, perusahaan dari Singapura dan Korea Selatan masing-masing memiliki 29 dan 22 kapal yang terdampak sejak konflik pecah. Vietnam juga dilaporkan memiliki tiga kapal pengangkut gas berukuran besar di kawasan tersebut.

Dari sisi jenis kapal, sekitar 50 Very Large Crude Carriers (VLCC) atau kapal tanker minyak raksasa dilaporkan terjebak, bersama 11 kapal pengangkut gas berkapasitas besar. Korea Selatan tercatat memiliki tujuh VLCC, diikuti China dan Jepang masing-masing enam kapal, serta Yunani lima kapal.

Selain itu, aktivitas kapal yang terkait dengan Iran juga cukup signifikan. Dari total 225 pelayaran kapal komoditas sejak awal konflik, lebih dari 40 di antaranya dilakukan oleh kapal Iran. Sekitar 60 pelayaran lainnya dilakukan oleh kapal yang tidak berbendera Iran, namun masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat terkait program Iran.

Sejumlah kapal dari Yunani, China, dan India tetap melakukan pelayaran melintasi selat. Tercatat sekitar 35 pelayaran dilakukan kapal milik Yunani, termasuk delapan pelayaran oleh satu perusahaan, Dynacom Tankers Management Ltd. Sementara itu, kapal yang berafiliasi dengan China dan India masing-masing mencatatkan sekitar 20 dan 13 pelayaran.

Beberapa kapal dilaporkan dapat melintasi Selat Hormuz melalui sistem verifikasi khusus, di mana Iran memberikan izin jalur aman kepada negara-negara yang dianggap bersahabat.

Di sisi lain, kapal-kapal yang berafiliasi dengan Eropa dan Amerika Serikat menjadi yang paling sering melaporkan serangan atau aktivitas mencurigakan. Data dari UK Maritime Trade Operations menunjukkan sekitar setengah dari insiden tersebut melibatkan kapal-kapal dengan keterkaitan ke wilayah tersebut.

Tingginya risiko keamanan dan melonjaknya biaya asuransi membuat ratusan kapal memilih menunda perjalanan mereka. Kondisi ini mempertegas dampak besar konflik terhadap stabilitas jalur distribusi energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan minyak dunia. *

Sumber : https://www.france24.com/en/live-news/20260402-which-countries-ships-are-hit-by-hormuz-crisis

Komentar

Belum ada komentar.