Reza Pahlavi Serukan Perubahan Rezim Iran di CPAC 2026, Janji “Make Iran Great Again”

D

Deli Hermanto

29 March 2026 276 Dilihat

Bagikan:
Reza Pahlavi Serukan Perubahan Rezim Iran di CPAC 2026, Janji “Make Iran Great Again”

Tokoh oposisi Iran, Reza Pahlavi, menyerukan perubahan rezim di negaranya saat tampil dalam forum Conservative Political Action Conference (CPAC) 2026 di Grapevine, Texas, Amerika Serikat, Sabtu (28/3/2026). Putra mendiang shah terakhir Iran itu juga meminta pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk tetap melanjutkan tekanan terhadap Teheran di tengah perang yang masih berlangsung.

Dalam pidatonya, Pahlavi menyampaikan optimisme terhadap masa depan Iran pasca konflik. “Bisakah Anda membayangkan Iran berubah dari ‘Death to America’ menjadi ‘God Bless America’?” ujarnya di hadapan peserta konferensi, yang disambut tepuk tangan meriah. Ia menambahkan, “Presiden Trump membuat Amerika hebat lagi. Saya berniat membuat Iran hebat lagi.”

Pidato tersebut disampaikan tepat satu bulan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran. Konflik yang kini memasuki bulan kedua itu dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.937 orang di Iran dan melukai puluhan ribu lainnya, tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.

Pahlavi, yang selama ini hidup di pengasingan sejak Revolusi Iran 1979, semakin menegaskan posisinya sebagai figur sentral oposisi di diaspora Iran. Para pendukungnya tampak membawa simbol-simbol monarki lama, termasuk bendera “Lion and Sun”, serta meneriakkan dukungan seperti “Long live the king!” selama acara berlangsung.

Dalam pernyataannya, Pahlavi juga menegaskan bahwa pemerintahan Iran saat ini harus diganti secara menyeluruh. “Rezim ini secara keseluruhan harus pergi,” tegasnya.

Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa pemerintah Iran tidak mudah runtuh akibat tekanan eksternal dan justru berpotensi menjadi semakin kuat. Selain itu, sebagian kalangan diaspora Iran mengkritik dukungan terbuka terhadap aksi militer AS dan Israel, mengingat tingginya korban sipil dalam konflik tersebut.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump sebelumnya meragukan peluang Pahlavi untuk memainkan peran utama dalam pemerintahan Iran jika terjadi perubahan kekuasaan. Trump menyebut Pahlavi sebagai sosok yang “terlihat baik”, namun mengisyaratkan bahwa figur dari dalam negeri Iran kemungkinan lebih dapat diterima oleh rakyat.

Perang Iran juga memicu perbedaan pandangan di kalangan politik kanan Amerika Serikat. Hasil jajak pendapat menunjukkan mayoritas pemilih Partai Republik mendukung serangan terhadap Iran, sementara secara keseluruhan mayoritas publik Amerika menolak aksi militer tersebut.

Beberapa tokoh konservatif, termasuk komentator Tucker Carlson dan mantan penasihat Gedung Putih Steve Bannon, justru menjadi pengkritik vokal terhadap kebijakan perang tersebut. Sejumlah aktivis muda juga menyuarakan kekecewaan karena menilai kebijakan itu bertentangan dengan janji Trump untuk menghindari keterlibatan militer di luar negeri.

Konflik yang terus berlanjut ini menambah ketidakpastian terhadap masa depan politik Iran, sekaligus memunculkan kembali perdebatan global mengenai intervensi asing dan perubahan rezim di kawasan Timur Tengah.

Sumber : Al Jazeera

Komentar

Belum ada komentar.